Skip to content

Hector Bellerin: Lebih Cepat dari Usain Bolt?

Konon katanya, Hector Bellerin bisa mengalahkan Usain Bolt dalam lari 40 meter. Sumber: The Independent

Hector Bellerin adalah bek kanan Arsenal berusia 20 tahun. Agustus lalu, ia menjadi pemain tercepat di Arsenal, mengalahkan Theo Walcott. Dalam sebuah tes lari 40 meter, ia mencetak waktu 4,42 detik (sayangnya, tidak ada video untuk ini). Akan tetapi, belakangan disadari bahwa saat manusia tercepat dunia Usain Bolt mencetak rekor dunia 100 meter di Berlin tahun 2009, ia butuh waktu 4,64 detik untuk menyelesaikan 40 meter pertama. The Mirror lantas mengklaim Bellerin sebagai “pemain Arsenal yang secara resmi lebih cepat dari Usain Bolt”. Tidak semua orang setuju. Richard Kilty, juara dunia lari 60 meter putra 2014, menantang Bellerin dan Walcott untuk balap lari dengannya, dan bertaruh 30.000 poundsterling (575 juta rupiah) bahwa ia akan menang. Maka pertanyaan kita sekarang, apakah benar Bellerin lebih cepat dari Bolt?

Baca selanjutnya…

ISL Disponsori Bank asal Qatar, Masalah Buat Loe?

Jumat (3 April 2015) kemarin, PT Liga Indonesia selaku penyelenggara ISL dan BV Sports selaku pemegang hak siar ISL membuat keputusan mengejutkan dengan membuat kerja sama dengan Qatar National Bank (QNB). Sampai akhir musim 2017 nanti, QNB akan menjadi title sponsor ISL sehingga untuk keperluan sponsor, ISL akan berubah nama menjadi QNB League. Namun, tidak semua pecinta sepakbola Indonesia setuju tentang nama baru ISL tersebut. Sejumlah blogger, dan bahkan Kemenpora mengeluhkan tidak adanya kata “Indonesia” dalam nama liga. Beberapa bahkan menyindir liga ini dengan sebutan “Liga Qatar”. Namun di dunia sepakbola industri saat ini, tidaklah aneh apabila sebuah liga nasional suatu negara disponsori perusahaan asing.

Baca selanjutnya…

Seberapa Terangkah Stadion Anda?

Seperti sudah diketahui bersama, lampu sorot alias floodlight adalah komponen penting dalam setiap stadion sepakbola agar bisa menyelenggarakan pertandingan di malam hari. Lampu sorot memungkinkan pemain untuk dapat bermain di malam hari tanpa kesulitan melihat akibat gelapnya malam. Untuk keperluan tersebut, biasanya kekuatan lampu yang diperlukan tidak usah terlalu kuat. Namun untuk keperluan siaran langsung di televisi, diperlukan lampu sorot yang lebih kuat lagi, terutama untuk siaran high definition (HD).

Maka dari itu, belakangan ini kita mendapati sejumlah stadion di Indonesia, seperti Stadion Kanjuruhan dan Stadion Dipta, menjalani renovasi yang salah satu agendanya adalah perbaikan lampu stadion untuk memenuhi standar kompetisi nasional maupun internasional. Tapi seberapa terangkah stadion-stadion tersebut dibandingkan stadion lainnya di berbagai belahan dunia?

Perhatikan bahwa ini adalah skala perbandingan (sliding scale), bukan daftar stadion-stadion paling terang di dunia, walaupun di ujung skala terdapat beberapa di antara stadion paling terang di dunia.

Baca selanjutnya…

Finalnya kapan, Pak? (Kumpulan sejumlah penundaan kompetisi)

Setelah jeda sembilan bulan, akhirnya Alhamdulillah saya bisa kembali memberikan entri di blog ini. Akibat kesibukan di sejumlah tempat lain, blog ini pun terlupakan oleh adminnya sendiri. Dan saat ini saya rasa adalah saat yang tepat untuk mem-post entri mengenai turnamen-turnamen yang sempat tertunda, mengingat baru-baru ini juga final Inter Island Cup 2014 ditunda untuk jeda waktu yang kemungkinan besar tidak singkat. EDIT: Final akan diadakan tanggal 1 Februari 2015. Tanpa banyak penundaan, berikut sejumlah turnamen yang sempat tertunda cukup lama. Baca selanjutnya…

Ingatkah Kita, Timnas Indonesia Pernah Nyaris Juara Dunia?

Tidak ingat. Kapan ya? Ah, masa? Yang benar saja? Mimpi! Timnas sepakbola apa badminton? Bagi para pembaca yang respon pertamanya salah satu dari keenam kalimat di atas, mengaku sajalah😛 . Timnas sepakbola Indonesia memang hanya sekali masuk Piala Dunia, itu pun waktu zaman penjajahan dan langsung digebuk Hungaria 0-6 di laga perdana. Tidak juga timnas Indonesia pernah lolos ke Piala Konfederasi. Walaupun pernah lolos ke Olimpiade 1956, nyatanya saat itu kita kalah dari Uni Soviet di perempatfinal melalui laga tanding ulang. Jadi, apa benar timnas kita pernah sedekat itu untuk menjadi juara dunia? Jawabannya ternyata ya. Baca selanjutnya…

The Death Match

Some people believe football is a matter of life and death, I am very disappointed with that attitude. I can assure you it is much, much more important than that. -Bill Shankly

Walaupun saya selaku administrator berpendapat bahwa banyak hal yang jauh lebih penting dari sekedar sepakbola (hidup dan mati adalah salah satunya), harus diakui bahwa ada beberapa kejadian di mana sebuah pertandingan sepak bola bisa menentukan hidup dan matinya seseorang. Pelatih dan para pemain Timnas Italia di Piala Dunia 1934 mungkin saja sudah dihukum mati oleh Benito Mussolini jika saja mereka gagal memenangkannya. Atau ditembaknya Andres Escobar setelah mencetak gol bunuh diri yang mendepak Kolombia dari Piala Dunia 1994. Dan Death Match, seperti namanya, merupakan salah satu contoh lain kejadian seperti ini. Baca selanjutnya…

Alergi Rumput? Bukan Alasan!

Beberapa orang memang memiliki alergi rumput dan sering gatal-gatal apabila terkena kontak dengan rumput. Tetapi, bagaimana jika orang yang memiliki alergi rumput tersebut adalah pemain sepakbola, yang notabene harus bermain di lapangan rumput setidaknya seminggu sekali, dan latihan di lapangan rumput (kalau klubnya tidak memiliki lapangan latihan dengan rumput sintetis) hampir setiap hari? Ternyata itu tidak menjadi penghalang bagi pemain-pemain berikut, yang meskipun memiliki alergi rumput, tetap berkarir sebagai pesepakbola profesional. Baca selanjutnya…